Teknik ini
tidak akan menolong kita jika yang ingin kita ketahui umurnya masih
hidup, misalnya teman mengobrol kita lewat internet yang mengaku 25
tahun. Penentuan umur menggunakan teknik radiokarbon (radiocarbon dating) berguna untuk menentukan umur tumbuhan atau sisa hewan yang mati sekitar lima ratus hingga lima puluh ribu tahun lampau.
Tampilkan postingan dengan label KIMIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIMIA. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Desember 2012
Sabtu, 01 Desember 2012
Asam Dipikolinat (piridin-2,6-dikarboksilat) Sebagai Ligan Pilihan Pada Kompleks
Penelitian di bidang obat-obatan kimia anorganik, akhir-akhir ini telah
dikembangkan dengan memanfaatkan ligan-ligan pengkhelat yang
terkoordinasi bersama ion-ion logam, kompleks yang terbentuk diarahkan
sebagai kontrol dalam bioaktivitas. Agen pengkhelat dari ligan ini
memberikan keuntungan dalam stabilitas kompleks yang terbentuk (Ryan E.
Mewis. 2010). Asam dipikolinat dapat sebagai ligan anionik berupa dipic2-.
Ligan dipikolinat termasuk jenis ligan tridentat dengan tiga atom donor
pasangan elektron, yaitu N (nitrogen) dan 2 buah atom O (oksigen).
Karena memiliki lebih dari satu atom donor, ligan dipikolinat termasuk
ligan jenis pengkhelat (sepit) (Paul M. Pellegrino. 2001).
Dipikolinat ini banyak ditemukan dalam beberapa senyawa alami sebagai
suatu produk degradasi oksidatif dari vitamin, koenzim, dan alkaloid,
serta merupakan suatu komponen dari fulvic acid. Asam dipikolinat (piridin-2,6-dikarboksilat)
juga menunjukkan beberapa fungsi biologis, di antaranya adalah
kemampuan untuk aktivasi-inaktivasi dari beberapa mettaloenzim,
penghambat transfer elektron, oksidasi LDL, selain itu juga toksisitas
yang rendah (low toxicity) dari piridin-2,6-dikarboksilat banyak digunakan dalam model senyawa metallo-pharmaceutical (Zafar A. Siddiqi. 2009).
Akhirnya, asam dipikolinat menjadi salah satu ligan yang paling sesuai untuk senyawa pharmacological yang aktif, karena sifatnya yang rendah toksisitas dan amphophilic
(AC. Gozales-Baro. 2005). Turunan asam karboksilat dan piridin telah
banyak ditemukan kegunaannya dalam bidang kimia analitik dan sebagai
penghambat korosi. Suatu asam dengan gugus karboksilat yang bertetangga
dengan atom nitrogen berperan dalam suatu pembentukan reaksi kompleks
dengan beragam ion logam (B. Setlow. 1993).
Asam dipikolinat juga
merupakan penyusun utama dari bakteri spora. Dalam beberapa bakteri,
asam dipikolinat menyumbang 17% dari berat spora. Asam dipikolinat
(H2dipic), atau piridin-2,6-dikarboksilat dipercaya merupakan faktor
utama yang berperan dalam melindungi spora dari panas dan radiasi UV
(Alper Tolga, et al. 2009). Senyawa ini juga berperan untuk menjaga
kestabilan dan pertumbuhan spora. Asam dipikolinat dalam sistem
biologis, dipelajari pertama kali oleh Udo pada tahun 1936. Keberadaan
asam piridin-2,6-dikarboksilat pada spora bakteri dipelajari oleh Powell
pada tahun 1953. Molekul ini juga terdapat pada beberapa jamur.
Molekul ini tidak bereaksi dalam beberapa perubahan kimia, karena
sifatnya yang inert dan tidak reaktif, tetapi mendapat perhatian yang
lebih dalam bidang biologi, karena keberadaannya pada spora bakteri.
Molekul asam piridin-2,6-dikarboksilat juga merupakan suatu agen
pengkelat yang utama, sifat ini telah dipelajari dalam pergeseran
kesetimbangan chiral-induced, yang dikenal juga sebagai efek Pfeiffer. Efek ini telah digunakan untuk membuktikan kemampuan optis dari kelat ion dipikolinat dengan beberapa logam lanthanida.
Daya Kerja Deterjen
Sebagai bahan pembersih lainnya, deterjen merupakan buah kemajuan
teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan
minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat,
silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. sekitar tahun 1960-an,
deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif
permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat
(ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit
diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan
dengan senyawa Linier Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.
Pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah.
Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur). Namun penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap menghasilkan busa yang berlimpah.
Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.
Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukkan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena daya kerja enzim dan pemutih akan efektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna, sebaiknya jangan menggunakan air hangat/panas.
Pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah.
Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur). Namun penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap menghasilkan busa yang berlimpah.
Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.
Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukkan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena daya kerja enzim dan pemutih akan efektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna, sebaiknya jangan menggunakan air hangat/panas.
Pemakaian deterjen juga kerap menimbulkan persoalan baru, terutama bagi
pengguna yang memiliki sifat sensitif. Pengguna deterjen dapat mengalami
iritasi kulit, kulit gatal-gatal, ataupun kulit menjadi terasa lebih
panas usai memakai deterjen.
Langganan:
Postingan (Atom)